Kenapa Brand Mulai Tinggalkan Marketplace?

16 Mei 2026 oleh
Kenapa Brand Mulai Tinggalkan Marketplace?
Pillbox, Fahmi Ghifari

Belakangan ini, semakin banyak brand mulai membicarakan pentingnya punya website toko online sendiri. Bukan berarti marketplace langsung ditinggalkan, tetapi ada kesadaran baru bahwa terlalu bergantung pada satu platform bisa membuat bisnis berada di posisi yang kurang fleksibel.


Marketplace memang masih menjadi kanal penting. Traffic sudah tersedia, sistem pembayaran sudah berjalan, dan pembeli lebih mudah menemukan produk. Untuk brand yang baru mulai, marketplace bisa menjadi pintu masuk yang sangat membantu.


Namun, ketika bisnis mulai tumbuh, persoalannya berubah. Brand tidak hanya butuh tempat untuk menjual produk. Brand juga butuh kendali atas margin, data pelanggan, pengalaman belanja, promosi, dan sistem operasional di belakang penjualan.


Fenomena ini mulai terlihat dari beberapa brand yang mempertimbangkan website sendiri sebagai channel penjualan tambahan. Dalam pembahasan Sentrasoft, salah satu alasan yang disorot adalah tekanan biaya marketplace, keterbatasan akses data pelanggan, serta kebutuhan brand untuk punya kontrol lebih besar terhadap strategi penjualan dan relasi dengan pelanggan.


Lalu, kenapa masalah ini bisa muncul?


1. Brand Mulai Sulit Mengontrol Margin

Saat berjualan di marketplace, brand tidak hanya berhadapan dengan harga produk. Ada biaya layanan, biaya iklan, subsidi promo, ongkir, komisi, dan berbagai penyesuaian platform yang bisa berubah sewaktu-waktu. Bagi brand kecil, biaya seperti ini mungkin belum langsung terasa besar. Tetapi ketika volume penjualan naik, selisih kecil per transaksi bisa menjadi angka yang cukup signifikan. Di titik ini, website sendiri mulai dilihat sebagai cara untuk punya ruang kontrol lebih besar. Brand bisa mengatur harga, campaign, bundling, promo, dan strategi penjualan tanpa seluruhnya bergantung pada mekanisme marketplace.


2. Data Pelanggan Tidak Sepenuhnya Dimiliki Brand

Salah satu masalah yang sering tidak disadari adalah soal data pelanggan. Di marketplace, brand bisa mendapat penjualan, tetapi belum tentu benar-benar memiliki relasi langsung dengan pembeli. Data pelanggan, pola belanja, histori transaksi, dan peluang retargeting banyak berada di dalam ekosistem platform. Akibatnya, brand harus terus membayar untuk menjangkau pelanggan yang sebenarnya pernah membeli produknya. Dengan website sendiri, brand punya peluang lebih besar untuk membangun database pelanggan, loyalty program, campaign, dan memahami perilaku pembeli secara lebih mandiri.


3. Perang Harga Membuat Brand Sulit Membangun Nilai

Marketplace membuat harga sangat mudah dibandingkan. Ini bagus untuk pembeli, tetapi cukup berat bagi brand yang ingin membangun positioning. Produk bisa terlihat berdampingan dengan kompetitor, reseller, atau seller lain yang bermain sangat agresif di harga. Akhirnya, brand sering terdorong ikut diskon, ikut subsidi, atau ikut perang harga agar tetap terlihat. Website sendiri memberi ruang yang berbeda. Brand bisa menjelaskan value produk dengan lebih lengkap, mengatur tampilan katalog, membuat landing page khusus, dan membangun cerita brand tanpa harus selalu bersaing dalam satu halaman pencarian yang sama.


4. Website Sendiri Bukan Cuma Etalase Digital

Di sinilah banyak bisnis sering salah memahami website. Website toko online bukan hanya halaman produk dan tombol checkout. Di belakangnya, harus ada sistem yang mengatur stok, pesanan, invoice, pembayaran, pengiriman, data pelanggan, dan laporan penjualan. Kalau bagian belakang ini tidak siap, website hanya terlihat modern di depan, tapi tetap berantakan di operasional. Contohnya, sebuah brand skincare mulai menjual produk lewat website sendiri sambil tetap aktif di marketplace. Pesanan masuk dari dua channel. Jika stok masih dicek manual, risiko overselling bisa muncul. Jika invoice dibuat satu per satu, admin bisa kewalahan. Jika laporan penjualan tidak terhubung, manajemen sulit melihat performa channel secara jelas.


5. Di Sini Software Development dan ERP Mulai Berperan

Ketika brand ingin membangun website sendiri, yang dibutuhkan bukan hanya desain yang bagus. Brand juga perlu sistem yang bisa mengikuti alur bisnisnya. Di sinilah software development menjadi penting. Website bisa dikembangkan sesuai kebutuhan brand, mulai dari katalog produk, checkout, customer database, integrasi pembayaran, sampai koneksi dengan sistem operasional. Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah menghubungkan website dengan sistem ERP seperti Odoo. Dengan ERP, proses penjualan, stok, invoice, customer data, pembelian, hingga laporan bisa lebih terstruktur dalam satu sistem. Misalnya, ketika pelanggan membeli produk dari website, pesanan bisa langsung tercatat, stok otomatis berkurang, invoice terbentuk, dan tim gudang mendapat informasi. Manajemen juga bisa melihat laporan penjualan tanpa harus menunggu rekap manual. Dalam konteks pengembangan sistem bisnis, perusahaan teknologi seperti Pillbox mulai banyak mengembangkan solusi digital berbasis web, mobile, desktop, AI, IoT, dan ERP untuk membantu perusahaan menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan operasionalnya.


6. Marketplace Tetap Penting, tapi Tidak Selalu Cukup

Punya website sendiri bukan berarti marketplace harus langsung ditinggalkan. Bagi banyak brand, strategi yang lebih masuk akal adalah membangun beberapa channel sekaligus. Marketplace bisa tetap digunakan untuk menjangkau pembeli baru. Social commerce bisa digunakan untuk membangun interaksi. Website sendiri bisa menjadi aset utama untuk branding, data pelanggan, dan transaksi yang lebih mandiri. Dengan strategi seperti ini, brand tidak sepenuhnya bergantung pada satu platform. Jika ada perubahan biaya, aturan, atau algoritma di marketplace, bisnis masih punya channel lain yang bisa dikembangkan.


Fenomena brand mulai membangun website sendiri menunjukkan satu hal penting: bisnis digital tidak cukup hanya punya tempat untuk jualan. Brand juga perlu punya sistem yang bisa menjaga data, transaksi, stok, dan operasional tetap rapi.

Marketplace tetap punya peran besar, terutama untuk akuisisi pelanggan. Namun, semakin besar sebuah brand, semakin penting juga memiliki aset digital sendiri yang bisa dikontrol lebih mandiri.

Pertanyaannya bukan lagi “apakah marketplace masih berguna?”, tetapi “apakah brand sudah punya sistem sendiri jika suatu hari aturan platform berubah?”

di dalam Products