“Katanya, usia 20-an itu waktu untuk tersesat. Tapi, mau sampai kapan?”
Pertanyaan ini semakin relevan di tengah dinamika generasi muda saat ini. Di era yang serba cepat seperti 2026, banyak Gen-Z berada di persimpangan antara ambisi untuk sukses di usia muda dan tekanan yang berujung pada kelelahan mental atau burnout.
Di satu sisi, ekspektasi untuk “jadi sesuatu” sebelum usia 30 terasa semakin tinggi. Namun di sisi lain, proses menemukan arah hidup sering kali tidak berjalan secepat yang diharapkan.
Di tengah tekanan tersebut, muncul pola pikir baru yang mulai diadopsi generasi muda: tidak menunggu sempurna untuk memulai.
Menurut M. Nandarizq Naufal, selaku CEO Tetap Berjalan Indonesia, generasi muda perlu mengubah cara pandang terhadap kesiapan.
“Stop nunggu sempurna. Kamu nggak akan pernah siap. Kamu berkembang karena mulai, bukan karena siap.”
Pandangan ini memperkuat pergeseran cara Gen-Z melihat proses berkembang. Pencarian jati diri tidak lagi dipahami sebagai fase “menunggu siap”, tetapi sebagai proses aktif yang berjalan seiring dengan tindakan.
Hal senada disampaikan oleh Reza Miftah, selaku CEO Pillbox. Ia menekankan pentingnya memulai dari hal yang sederhana namun berdampak.
“Jangan tunggu jadi expert. Mulai dari useful.”
Di era digital, pendekatan ini menjadi semakin relevan. Banyak anak muda mulai membangun nilai dari hal-hal kecil yang mereka kuasai, lalu mengembangkannya menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa eksplorasi diri kini tidak hanya berhenti pada pencarian identitas, tetapi juga berkembang menjadi upaya menciptakan peluang income.
Sementara itu, Pujo Laksono, selaku CEO Kazee Digital Indonesia, melihat pentingnya keberanian untuk bertindak dari perspektif yang lebih reflektif.
“Whatever changes you wanted your younger self to do, do it now for your future self.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa waktu terbaik untuk memulai bukan di masa lalu atau masa depan, tetapi saat ini.
Perubahan pola pikir ini juga menjadi dasar dari hadirnya kegiatan “Pasar Gen-Z x Tetap Berjalan: Unstoppable You!”, yang mengangkat isu keseimbangan antara ambisi, kesehatan mental, dan kemandirian finansial.
Acara ini tidak hanya menghadirkan motivasi, tetapi juga membahas strategi nyata dalam mengembangkan skill menjadi sumber income. Mulai dari memahami potensi diri, membangun konsistensi, hingga memanfaatkan peluang di era digital.
Di tengah perubahan yang cepat, tantangan seperti burnout, overthinking, hingga tekanan sosial tetap menjadi hal yang nyata. Namun, dengan pendekatan yang lebih realistis dan berbasis aksi, Gen-Z mulai menemukan cara untuk tetap bergerak tanpa kehilangan arah.
Pada akhirnya, Pasar Gen-Z mencerminkan sebuah pergeseran penting: dari sekadar mencari jati diri menjadi menciptakan nilai dari diri sendiri, sebuah langkah yang tidak hanya relevan untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan.